Tari Muang Sangkal Sebuah Warisan Budaya Sumenep

oleh -1.994 views
https://seputarmadura.com/wp-content/uploads/2020/04/Tari-Muang-Sangkal-Sebuah-Warisan-Budaya-Sumenep.jpg
Tari Muang Sangkal Sebuah Warisan Budaya Sumenep

Seputarmadura.com, Sumenep, Senin 27 April 2020- Beragam warisan budaya di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, masih dijaga kelestariannya. Salah satunya  “Tari Muang Sangkal”.

Tarian ini menjadi salah satu tarian tradisional masyarakat Madura yang dilakukan untuk ritual tolak bala atau menjauhkan dari mara bahaya. Dan sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu besar dan berbagai acara adat lainnya.

Tari “Muang Sangkal” ini merupakan tarian tradisional yang sangat terkenal dan menjadi salah satu icon seni tradisional di Kabupaten Sumenep.

Tarian ini diciptakan sebagai rasa kepedulian para seniman terhadap kekayaan yang dimiliki oleh Madura yang sarat akan karya seni dan keunikan didalamnya. Selain itu juga mengangkat kembali sejarah kehidupan Keraton Sumenep pada jaman dahulu.

Nama Tari Muang Sangkal sendiri diambil dari kata “Muang” dan “Sangkal”. Kata “muang“ berarti membuang, sedangkan kata “sangkal” sendiri berarti kegelapan atau sesuatu yang berhubungan dengan santapan setan atau jin (pada ajaran agama hindu jaman dahulu.

Dalam pertunjukan Tari Muang Sangkal ini dilakukan oleh para penari wanita. Jumlah penari yang ditampilkan harus ganjil, bisa satu, tiga, lima dan seterusnya. Selain itu karena merupakan tarian yang terbilang sakral, penari yang ditampilkan harus dalam kondisi suci.

Dalam pertunjukannya, diawali dengan gerakan yang cepat, penari berjalan beriringan menuju panggung. Setalah itu dilanjutkan dengan gerakan yang lebih halus, penari menari sambil membawa cemong diiringi Musik Gamelan khas Keraton. Gendhing yang digunakan untuk mengiringi Tari Muang Sangkal.

Kostum atau Busana yang digunakan pada Tari Muang Sangkal ini merupakan busana pengantin legha khas Sumenep, dengan perpaduan warna khas yaitu merah, kuning dan hitam.

Sedangkan pada bagian bawah menggunakan kain panjang di dalam dan diluar menggunakan beberapa kain tambahan berwarna merah dan kuning sebagai pemanis.

Tarian ini masih tetap ditampilkan dalam berbagai acara disana seperti acara adat dan penyambutan tamu besar. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara festival budaya, baik di daerah maupun luar daerah. (Yan/Nit)