Kehadiran Polwan di Jabatan Strategis di Polres Sumenep Menjadi Emansipasi Wanita Buah Perjuangan RA Kartini

oleh -77 views
https://seputarmadura.com/wp-content/uploads/2020/04/Kehadiran-Polwan-di-Jabatan-Strategis-di-Polres-Sumenep-Menjadi-Emansipasi-Wanita-Buah-Perjuangan-RA-Kartini-.jpg
Ajun Komisaris Polisi (AKP) Widiarti Setioningtyas, Yang Menduduki Jabatan Kasubag Humas di Polres Sumenep

Seputarmadura.com, Sumenep, Rabu 8 April 2020- Semangat RA Kartini dalam memperjuangan hak-hak perempuan demi mengangkat derajat agar disamakan dengan kaum laki-laki tidak diragukan lagi. Bahkan sebagai buah perjuangannya, kini di jaman modernisasi seperti saat ini, kiprah perempuan semakin maju dan mengisi di semua lini kehidupan. Salah satunya di kesatuan kepolisian Republik Indonesia yang disebut Polisi Wanita (Polwan).

Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948. Kini, dengan kemajuan teknologi, tugas Polwan di Indonesia terus berkembang tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika dan masalah administrasi bahkan berkembang jauh hampir menyamai berbagai tugas polisi prianya.

Di beberapa jabatan strategis seperti Kapolsek, Kasubag Humas diisi oleh Polwan. Seperti di Polres Sumenep, untuk jabatan Kasubag Humas di duduki seorang Polwan, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Widiarti Setioningtyas.

Sebelumnya, Widiarti juga tercatat pernah menjadi Kapolsek Sumenep Kota. Bahkan, posisinya mencatatnya sebagai Polwan pertama di wilayah Sumenep, yang menduduki kursi Kapolsek.

Inilah bentuk emansipasi wanita yang bermakna kesamaan derajat antara wanita dan pria dalam segala pemenuhan hak sebagai warga negara. Sungguh agung perjuangan ibu RA Kartini.

Menurut Widiarti, RA Kartini telah memberikan perubahan besar terhadap kaum perempuan. Karena, berkat perjuangannya wanita tidak hanya melahirkan generasi bangsa, namun juga mengisi ruang pergerakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Banyak inspirasi dan sejumlah pelajaran penting dari sosok Kartini untuk diteladani perempuan masa kini,” tuturnya.

Sosok Kartini merupakan pejuang emansipasi yang dalam kehidupan dan pemikirannya sangat menginspirasi kemajuan wanita Indonesia.

Pejuang emansipasi wanita memanglah RA Kartini. Dulu wanita masih dipandang sebelah mata, namun dijaman sekarang wanita sejajar dengan pria dan bisa mencari nafkah sendiri. Bahkan pekerjaan berat yang biasa dikerjakan pria pun kini bisa dilakoni wanita. Salah satu pekerjaan itu adalah polwan.

“Secara alam, Polwan itu adalah wanita. Dan wanita tentunya harus mengetahui kodratnya. Wanita harus menjaga cara bicara, tata krama, dan perilaku,” tuturnya.

Selama melaksanakan tugas, kata Widiarti, Polwan dituntut untuk menjaga penampilan. Karena Polwan sering terjun langsung ke masyarakat, sehingga harus berpenampilan baik.

“Tugas Polwan itu bisa dibilang ringan, tapi juga bisa dibilang berat. Karena menjalankan dua peran. Sebagai abdi negara untuk mengayomi dan melayani masyarakat, disamping itu juga harus menjadi ibu dan istri yang baik bagi anak dan suaminya,” tukasnya.

Ada empat hal yang penting dalam memaknai perjuangan RA Kartini yang sangat aktual dan relevan.

Pertama, Kartini merupakan seorang yang berpikir maju tentang masa depan, dan itu terjadi karena Kartini sangat kuat mendorong pentingnya pendidikan untuk perempuan. Bagi Kartini, Perempuan adalah pembawa peradaban.

Kedua, Kartini menentang diskriminasi gender yang tumbuh dari cara pandang feodal. Itu berarti perayaan Hari Kartini sama saja dengan merayakan Hari antidiskriminasi gender.

Kartini adalah perempuan yang menulis tentang bangsanya dan tentang kaumnya. Maka itu, Kartini menulis tak bersembunyi dan tak takut, yang harus diaplikasikan perempuan masa kini melalui aktualisasi yang ada saat ini.

Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Mari terus berkarya para perempuanku. Sebagaimana yang dituangkan dalam bukunya ibu kita Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  (Yan/Nit)